Mobile Menu

ads

More News

Sandiaga Uno Mengapresiasi Holding Hotel BUMN

April 08, 2021

sumber dari kemenparekraf.go.id


Tour Travel, Bali – Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melakukan Holding hotel dengan PT Hotel Indonesia Natour (persero) atau HIN, untuk melakukan rebranding 3 unit hotelnya. Hal ini berupaya untuk mengenalkan kearifan lokal serta uniknya Indonesia di setiap Daerahnya. Yang di lakukan pada hari Kamis, (08/11/2021).


Sebelumnya Kementrian BUMN membentuk holding BUMN hotel ini ke dalam dua program pengelolaan dan pembangunan holding hotel BUMN yaitu, penyerahan kepemilikan yang dilakukan anak perusahaan PT Wijaya Karya (persero), PT Wijaya Karya Reality, dan penyerahan operatorship untuk HIN yang nantinya akan diserahkan kepada Hotel Indonesia Group (HIG) yang merupakan anak perusahaan.


Tiga unit hotel yang mempunyai penampilan baru itu anataranya adalah Inaya Putri Bali (hotel bintang 5) yang berubah menjadi Merusaka Nusa Dua, Grand Inna Padang (hotel bintang 4) yang berubah menjadi Truntum Padang, dan yang terakhir adalah Inna Prapat (hotel bintang 3) yang berubah menjadi Khas Prapat.


Melansir dari Kemenparekraf.go.id, Sandiaga Salahuddin Uno selaku Menteri Pariwisata dan Ekonomi kreatif mengaku, pihaknya sangat mengapresiaasi langkah yang telah Kementrian BUMN dalam holding hotel BUMN ini, melakukan perubahan di tengah Pandemi. Moment ini sangat diharapkan oleh Sandiaga Uno untuk dapat membangkit bidang pariwisata dan ekonomi kreatif, tidak hanya di Bali tapi juga Seluruh Indonesia.


“Ke depan diharapkan kita dapat berkolaborasi bersama untuk memajukan pariwisata dan ekonomi kreatif Indonesia dengan melakukan aksi nyata untuk mendukung pemulihan pariwisata dan ekonomi kreatif,” tuturnya.


Pihak BUMN telah meluncurkan 3 brand program rebranding hotel BUMN. Yang nantinya secara bertahap di tahun 2021, sekitar 29 hotel di bawah BUMN yang akan rebranding. Pihak Dirut HIN, Iswandi Said, memiliki tekad untuk mengelola secara profesional jaringan hotel BUMN yang berstandar internasional di masa adaptasi New Normal, tak lupa juga untuk mengusung khas lokal dan keramahtamahan Indonesia. (Penulis: Gita Ramadhany  / Sumber Gambar: Kemenparekraf.go.id).

Komentar 0
Sembunyikan Komentar

0 σχόλια:

Post a Comment